Sabtu, 02 September 2017

Kali Ini Rindu Yang Bertandang

Beberapa kali dalam suasana tertentu aku pergi senyap menyendiri entah karna aku hanya ingin duduk diam sendiri saja sembari menikmati suguhan pemandangan disekeliling atau ingin berefleksi tentang moment yang sudah terlewati, kali ini aku rindu satu sosok yang pernah kujumpai setahun yang lalu.

Memori tentangnya kukenang kembali

Terbayang bagaimana ia dilepas dengan deraian air mata saat mengucapkan salam perpisahan, aku mengamati dan hanya berdiri terpaku melihat dari kejauhan. bertubi-tubi pelukan dilabuhkan kepangkuannya, pelukan cinta dan kasih yang telah lama ditanam pada hati mereka. Sekarang dia sedang menuainya.

Ada tanya yang menyelinap dalam rasa penasaran ini, tapi aku yakin akan menemukan jawaban dikemudian hari.

Pernah suatu ketika aku tersentak kaget dengan bentakan keras dari seseorang, aku buru-buru keluar ruangan menjauhi sumber suara tersebut, namun belum sempat aku tenangkan kekagetanku, suara tersebut malah semakin berteriak, aku bergumam kesal pastinya, karena kali ini suara itu bukan hanya membentak namun juga memarahi beberapa orang dari kami didepan kalayak ramai dengan hardikan penuh emosi. Beberapa menit setelah kejadian itu aku bertanya padanya.
Aku: Bagaimana perasaanmu ketika ditegur dengan keras didepan anak-anak?. 
Dia: Sudah biasa kok, beliau kalau lagi marah memang begitu semua kita kena walau hanya satu dua orang yang berbuat salah.
Aku: "terus gimana caranya biar bisa nenangin diri ya?" 
Dia sambil tersenyum menjawab: "Diamin aja gak usah nyahut kalau hati berontak diistifarin aja, lama kelamaan insya allah bisa lebih tenang dan bentakan yg seperti itu pun akan gak jadi beban lagi"
Aku terdiam saat itu, sembari memandang lekat senyum diwajahnya.

Kini dititik ini aku mulai lemah, aku berlahan mencerna nasihat lembutnya.

Tentang arti diam, tak perlu "mengaktualisasi" disembarang tempat, yang bisa dilakukan adalah ikhlas menerima kekurangan setiap individu karena walau bagaimanapun tanpa sadar banyak dari keluarga, sahabat, rekan kerja yang juga berusaha berdamai dengan kekurangan diri ini.

Sabtu, 26 Desember 2015

Anggun



“Dia”, pernah hadir dalam cerita ini.
Melukiskan warna ketegaran dan rasa syukur yang harus slalu terpatri dalam lembaran episode kehidupan.
Begitu indah pertemuan dan kebersamaan dengannya.
Bagiku, dia sangat anggun, ini tak berlebihan. Sungguh!

Kuceritakan mengenai dia. Kali ini hanya secuil kisah dari begitu banyaknya kekaguman ku padanya.
Suatu hari.
Aku melontarkan pertanyaan padanya
apa hal yang paling membuatmu begitu sedih?”
dia berpikir sejenak dan “gak tau apa ya, emmm masalah apa aja gitu?
iya, apa aja” kataku.
kayak gimana maksudmu wir?”
emmm, misalnya aku. Aku pernah ngalamin musibah bla bla bla” jawabku panjang lebar
Ooh…. Aku. Apa ya, kayaknya aku gak pernah ngalamin yang seberat kamu deh, emm palingan dulu itu waktu aku kecil, rumahku pernah kebanjiran terus aku sedih banget terus gak lama setelah kejadian itu rumahku diperbaiki lagi, udah cuma gitu aja” jawabnya.
Sumpah Aku geli banget dengar jawabannya #;

Kali lain,
hari itu Rabu jadwal yang sangat sesak bagiku, tapi tidak bagi temanku yang satu ini.
Eh dengan santai dia nongol ke kampung buat ngejemputku. Tanpa kabar (yaelah gimana mau ngasih kabar sinyal aja kagak ada). Aku sedang ngajar di kelas 3, Pak Iwan yang memberitahu kalau ada teman yang datang. Kulihat motor yang diparkir dan sudah bisa ditebak itu pasti dia. Masuk ruang kantor, kulihat dia sudah duduk manis dikursi dengan suguhan teh hangat dan makanan di depannya. Aku hanya geleng-geleng kepala. Mulutnya terus mengunyah tak henti. Sudah kenyang baru dia ingat sesuatu, dia keluar memberitahuku kalau kunci motornya hilang.
 lah kalau kunci ilang, kok motornya bisa dimatikan?” tanyaku sedikit panik. “Tadi tes tes kunci motor bapak-bapak disini, terus ada yang cocok”.
Terus sekarang gimana mau berangkat kalau motor gak ada kunci”, tanyaku lagi.
Ayo ikut aku” katanya, dia bawa aku ke bengkel dekat sekolah alhasil si tukang itu ngasih kunci lemari istrinya dan cocok pula. Aku hanya bingun dengan temanku yang satu ini. Motor pinjaman terus kuncinya dihilangin nah pulang-pulang bawa kunci lemari orang. terahir dia cuma bilang “doain aku ya semoga suami teh mbai gak marah”. Lah mana pernah suami teh mbai marah yang ada kitanya gak enakan, Kataku. Udah ntar waktu ke kota kita bikin kunci lain yang lebih kece. Santai beutttt….

Nah ada juga tuh versi ngamuknya dia.
Kali ini ada agenda dadakan di kabupaten. Kita-kita pada sibuk semua di kampung dan bahkan kesehatan lahir dan batin juga lagi kurang fit. Acaranya besok namun persiapannya masih sangat minim. Ke kabupaten pun baru nyampe sore menjelang magrib. Aku dan dia nyampe duluan kemudian disusul oleh 1 teman cowok. Kami diskusi sambil jalan, mungkin Karena kecapean si teman cowok kurang respon langsung aja dia ngamuk bukan kepalang. Dibantingnya kunci motor yang ada ditangan ke lantai terus disusul dengan suara keras mereka berdua. Aku ciut gak tahu harus ngapain. Aku diam aja. Terus dia dengan seketika menghilang. Aku ditinggal pergi. Gak ada pilihan lain aku ajak si teman buat nyari dia. Kami menuju ke suatu rumah. Belum shalat, ditelpon gak diangkat-angkat. Si teman terus memuntahkan kekesalannya sambil marah-marah. Tak lama kemudian dia muncul dan ngobol lagi kayak biasa, ngajak makan, udah kenyang eh ketawa ketiwi lagi tu anak berdua. Aku ya nasib cuma bisa bengong liatnya.

Sebenarnya masih panjang kali lebar kali tinggi cerita tentang dia.
Nah tiga kejadian tadi sudah cukup kusimpulkan kalau dia sangat anggun dimataku.
Anggun sesuai dengan pembawaannya. Dia jadi panutan bagiku.

Aku belajar
Belajar bagaimana kita fokus bersyukur atas limpahan nikmat yang kita terima dari Sang Penyayang dengan begitu setiap kesusahan, kepedihan dan kesakitan yang ada tak berasa wujudnya.

Belajar bagaimana kita bisa berpikir jernih sesulit apapun rintangan yang sedang kita hadapi. Harus berani bertanggung jawab dengan segala resiko yang tlak kita pilih.

Belajar bagaimana kita bisa bangkit dari ke salahan yang pernah diperbuat, tak perlu memperbesar dan menghakimi diri dengan kesalahan yang lalu. Namun yang terpenting bagaimana kita bisa berubah menjadi lebih baik dan mencari solusi untuk tantangan ke depan.
Beruntung sekali aku dipertemukan dengan sosok “dia”

Dia iya dia teman sepenempatanku saat bergabung dalam Gerakan Indonesia Mengajar
Teman jalan yang serunya pakai bangettn (2 tujuan gagal, trip ke air terjun Pandeglang dan Baduy hiks hiks)
Teman diskusi hal remeh temeh (yang kadang pembahasannya lari udah kemana-mana)
Teman silaturahim (yang kadang main datang aja tanpa diundang)
Teman tilawah, shalat jamaah dimesjid (1 plan gagal, ikut kajian ibu-ibu di komplek kosan)
Teman nyanyi sepanjang jalan Rangkas-Simpang Somang
Teman makan bubur ayam plus es campur yang nikmatnya bukan kepalang.

Thanks untuk kebersamaan yang pernah tercipta J
Selamat hari jadi, makin shaliha ya Desi Yani Harahap.
Yuk sama-sama terus memperbaiki diri seperti munajat yang kita lantunkan bersama. Miss you forever kak Des

Kamis, 08 Oktober 2015



Mau tak mau dia tetap harus hadir, itu kata naluri. Dia bahkan tahu hidup ini tak sebening dulu kala negri ini belum tercemar. Kini yang tinggal hanya penyesalan. Ya hanya penyesalan akan sepotong episode yang tlah dilalui dengan hari-hari yang terasa setengah kelam.

Ia tetap lah hanya setetes air yang tak kan mampu melepaskan dahaga apalagi menyirami jagat ini dengan keteduhan. Ia juga tak pernah berharap menjadi aliran air sungai yang mempesona. Karena takdirnya hanya menjadi dirinya yang hinggap didaunan. Mau tak mau ia akan tersingkirkan oleh teriknya mentari dan wujudnya akan lenyap tanpa ada yang merasa kehilangan. Mungkin ia terkesan lemah atau tak berguna. Ya ia tetap lah secuil air.

Sudahlah..
Hidup ini memang begini adanya, tetaplah lakoni peran masing-masing.
#Embun pagi,

Selasa, 11 Februari 2014

#*&/??#

Berhenti berpikir bukan berarti melupakan, ada kala semua yang berlalu mesti kita tempatkan sesuai tempatnya. Hanya doa yang mampu merubah harapan menjadi kenyataan. Tak selamanya apa yang kita inginkan mesti kita peroleh, karena yakinlah Allah lebih tahu seberapa butuh kita akan hal itu. Terkadang kita boleh merasa bersedih hati saat harapan tetap menjadi harapan, namun sadarlah, Allah yang menciptakan kita, Allah tahu semua tentang isi hati kita.
Kita hamba hanya bisa terus berikhtiar, memohon padaNya, jika kendatipun apa yang tlah kita cita-citakan tak kesampaian juga maka doalah yang bisa kita jadikan senjata. Tak perlu berlama-lama dalam kesedihan, jadikan ikhtiar kita sebagai usaha pembuktian cinta padaNya, sungguh kita manusia kerdil dimataNya, kita tak mampu menggapai segala yang kita mau tanpa ridhoNya.

Jumat, 17 Januari 2014

Aku dan Supir Angkot


Aku naik labi-labi (angkot) hendak pulang, kulihat jam tangan pukul 12.35 WIB. Awalnya aku kaget angkotnya melaju kencang tak karuan. Seorang ibu menumpahkan kekesalannya sambil melihat kearahku, aku hanya membalas komentar sang ibu dengan menyunggingkan senyum tanda setuju dan sehati dengan beliau yang tak nyaman. Di persimpangan jalan (Sp. Mesra) supir memelankan laju angkotnya sambil berteriak pada seorang pemuda “ho mejak, sembahyang ?!!!” pemuda itu mengangguk , angkot berhenti  dan supir memberi kode menyuruh naik. Pemuda itu masuk, duduk tepat dihadapanku. Aku mencoba melirik ke arahnya, terlihat rapi memang dengan koko putih yang dikenakannya, siapapun yang melihatnya pasti bisa menebak pikirku.
Tepat di depan mesjid polda angkot berhenti, pemuda itu turun dan mengangkatkan tangan sebagai kode terima kasih untuk supir angkot. Pemandangan yang sungguh indah bersitku, ada sedikit ketenangan dihatiku, aku yakin begitu pula hati ibu-ibu yang ada di angkot. Angkot terus melaju dengan kecepatan tinggi, kuarahkan pandangan keluar jendela, begitu banyak masih kaum adam yang sekedar nongkrong di warung kopi, di emperan toko. Ah sudah lah, aku yakin pemuda yang turun barusan jumlahnya tak kalah banyak juga, bisikku dalam hati sekedar menghibur diri.
Seorang ibu memencet bel berhenti di depan pasar Peunayong. Aku tergerak untuk turun walau belum sampai pas di tempat pemberhentianku biasanya. Saat kusodorkan uang, si supir mencari uang kembalian, kuberanikan diri untuk sekedar basa-basi “bang, pakon menan man neba moto?” sambil memberikan uang kembalian si supir menjawab “mekarat dek hay, sembahyang”. Aku mengambil kembalian sambil menyungging senyum kepada supir dan berlalu pergi. Dalam hati kuberkata, “Nah betulkan masih banyak pemuda yang taat”.  Sambil tersenyum-senyum kecil ku berlalu melewati pasar. Kulirik ke arah pasar, ternyata senyumku memudar lagi melihat bapak-bapak di pasar masih tak menghiraukan panggilan Rabbnya.

Jumat

Senin, 25 November 2013

baby tak salah

aku gemas melihat pipimu, tembem bangettttt pengen digigittttt tapi aku sadar kamu bukan kue. kemaren kamu hadir ditengah-tengah keluargaku, jujur saat itu aku sedang banyak sekali masalah baby, kamu datang memperlihatkan ketegaran yang harus aku pelajari darimu. Kamu kuat sekali beb, aku iri padamu.
entahlah bagaimana hidupmu kelak, kau tak bersalah namun tetap saja hina dimata mereka. Apa mungkin mereka takut dekat denganmu apalagi mengadopsimu hanya gara-gara keberadaanmu didunia ini tak dinginkan. perih mata ini melihat tangismu, saat kudekap kau diam seribu bahasa, begitu hauskah kau akan belaian dari ibumu baby, ah aku tak kuasa melihatnya.
kau sesuaikan cara hidup dengan kondisimu, tak pernah diberi ASI apalagi susu botol (hanya dengan alasan diare) hanya air gula yang kau konsumsi selama ini. Malaikat kecil bertahanlah ya sayang sampai kau bisa jadi orang hebat kelak :) aku kan selalu mendoaimu malaikat kecil

Rabu, 13 November 2013

Non..!! jangan kesal melulu sama aku, manfaatku sesyahdu namakuu BIDURI

Lama aku tatap keyboard notebook, ada kerutan dikeningku (dah tua kaleeee) makhlum tak mampu nulis dengan kata2 teratur... yowes lah apa adanya je ye... aku nak share pengalaman.
Sore kemaren....
aku dan kawan kosku pergi ke rumah adik angkat kami guna menaati titah paduka amma reje untuk menyita Hp si adik... kasihan si adik :'-( (aku tak nak lanjutin cerita si adek)
Nah kebetulan ada alasan keluar, kami gunakan kesempatan emasss untuk berlama-lama di alam bebas (biasanya terkurung di jereji rumah).
Kawanku punya kenangan tersendiri di Jalan Syiah Kuala (katanya sihhh), aku pun bisa melihatnya. Disepanjang jalan kami asik ngobrol ngodal-ngidul tak jelas dengan seabrek mimpi-mimpi. Tapi, pas sampai ke TKP maksudnya jalan Syiah Kuala dia langsung menghentikan percakapan, aku pun tau maksudnya... kalian juga tau kan.??? tau tak??? aku bilang aja lah "Dia mau mengenang kembali semua keluarga (ayah, ibu, adik2nya) yang tlah dibawa oleh laut itu!! Bayangan mereka menari-nari dimatanya, dia selalu bilang padaku dulu kalau setiap minggu pagi mereka berlari-lari di pasir itu".


Aku coba menghibur sedikit dengan menjepret beberapa gambar, kamera kuarahkan ke dia. Tu kan kena lo... Iyapun masang gaya yang aduhaiiiiiii.... gitu2 aja.... hehee.. tak apa lah yg penting bibirnya sudah tersungging senyum.
Nah masuk deh ke poin yang memang ini nak ku share
saat asyik berfoto ria, aku minta giliranku yang dijepret tapi slalu gagal,
ada bapak-bapk yang nimbrung masuk ke gambarku
dengan sedikit penasaran, kusapa si Bapak. "Bapak lagi ngapai? (Kagak ada maksud nanya ngapai nongol-nongol di fotoku hehe...)
"lagi potong ini" jawab si Bapak sambil nunjukin batang sejenis tanaman semak.
"buat apa batang itu pak???" tanyaku semakin penasaran.
"buat makanan jangkrik"
"..????? jangkrik pak?" tanyaku polos
"iya jangkrik untuk makanan burung, Bapak budidaya jangkrik buat dijual ke agen burung" jawab si Bapak sambil mengambil posisi duduk karena penat jongkok.
Aku sempat foto tu tanaman yang memang tak asing lagi di sekeliling kita.
Aku sempat kesel terkadang kalau lagi jalan-jalan tersentuh batang ini, gatal kalau terkena kulit. Apalagi kalau di daerah gunung atau di perumahan bekas tsunami dekat pinggiran pantai, setiap rumah pasti ada ni pohon. Ternyata ni batang menjadi ladang wirausaha bagi yang punya pengetahuan luas, contoh nyata ni dia si Bapak yang sempat nongol difoto aku...hehehe
Sepulang ke rumah dengan semangat 45 aku ceritakan ke ibu.
Wah........ ternyata ibuku malah lebih tau banyak mengenai tu batang... :-( ibu bilang, tu batang namanya BIDURI sangat bagus untuk obat, dulu ibu sering menjadikan aku salah satu pasien yang mengkonsumsi biduri product. Kata ibuku, dulu aku sering malas pakai sandal kalau lagi main-main keluar rumah, pas giliran ketusuk duri di telapak kaki, pulang ke rumah merengek karena kesakitan. Mulai deh si dokter herbal sambil merepet eeee maksudnya menasehatiku mengambil getah biduri dan meneteskannya ke tempat yang tertusuk duri guna mengeluarkan duri yang sangat halus. Tak lama setelah itu duripun keluar dengan sendirinya dan kakiku pun bisa loncat-loncat kembali...hahahaa
nah, yang lebih anehnya lagi daun biduri juga bisa digunakan untuk obat gatal-gatal, padahal seperti yang kukatakan tadi, kalau terkena tu pohon akan terasa gatal. Penyebab gatal kok bisa jadi penyembuh gatal toh.
Memang tak salah dimana ada penyakit disitu ada penawarnya :)