Aku naik labi-labi (angkot)
hendak pulang, kulihat jam tangan pukul 12.35 WIB. Awalnya aku kaget angkotnya
melaju kencang tak karuan. Seorang ibu menumpahkan kekesalannya sambil melihat
kearahku, aku hanya membalas komentar sang ibu dengan menyunggingkan senyum
tanda setuju dan sehati dengan beliau yang tak nyaman. Di persimpangan jalan
(Sp. Mesra) supir memelankan laju angkotnya sambil berteriak pada seorang
pemuda “ho mejak, sembahyang ?!!!”
pemuda itu mengangguk , angkot berhenti dan
supir memberi kode menyuruh naik. Pemuda itu masuk, duduk tepat dihadapanku.
Aku mencoba melirik ke arahnya, terlihat rapi memang dengan koko putih yang
dikenakannya, siapapun yang melihatnya pasti bisa menebak pikirku.
Tepat di depan mesjid polda angkot
berhenti, pemuda itu turun dan mengangkatkan tangan sebagai kode terima kasih
untuk supir angkot. Pemandangan yang sungguh indah bersitku, ada sedikit
ketenangan dihatiku, aku yakin begitu pula hati ibu-ibu yang ada di angkot.
Angkot terus melaju dengan kecepatan tinggi, kuarahkan pandangan keluar
jendela, begitu banyak masih kaum adam yang sekedar nongkrong di warung kopi,
di emperan toko. Ah sudah lah, aku yakin pemuda yang turun barusan jumlahnya
tak kalah banyak juga, bisikku dalam hati sekedar menghibur diri.
Seorang ibu memencet bel berhenti di depan pasar
Peunayong. Aku tergerak untuk turun walau belum sampai pas di tempat
pemberhentianku biasanya. Saat kusodorkan uang, si supir mencari uang
kembalian, kuberanikan diri untuk sekedar basa-basi “bang, pakon menan man neba moto?” sambil memberikan uang kembalian si
supir menjawab “mekarat dek hay,
sembahyang”. Aku mengambil kembalian sambil menyungging senyum kepada supir
dan berlalu pergi. Dalam hati kuberkata, “Nah
betulkan masih banyak pemuda yang taat”.
Sambil tersenyum-senyum kecil ku berlalu melewati pasar. Kulirik ke arah
pasar, ternyata senyumku memudar lagi melihat bapak-bapak di pasar masih tak
menghiraukan panggilan Rabbnya.Jumat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar