“Dia”, pernah hadir dalam cerita ini.
Melukiskan warna ketegaran dan rasa syukur yang harus
slalu terpatri dalam lembaran episode kehidupan.
Begitu indah pertemuan dan kebersamaan dengannya.
Bagiku, dia sangat anggun, ini tak berlebihan. Sungguh!
Kuceritakan mengenai dia. Kali ini hanya secuil kisah
dari begitu banyaknya kekaguman ku padanya.
Suatu hari.
Aku melontarkan pertanyaan padanya
“apa hal yang
paling membuatmu begitu sedih?”
dia berpikir sejenak dan “gak tau apa ya, emmm masalah apa aja gitu?”
“iya, apa aja”
kataku.
“kayak gimana
maksudmu wir?”
“emmm, misalnya
aku. Aku pernah ngalamin musibah bla bla bla” jawabku panjang lebar
“Ooh…. Aku. Apa
ya, kayaknya aku gak pernah ngalamin yang seberat kamu deh, emm palingan dulu
itu waktu aku kecil, rumahku pernah kebanjiran terus aku sedih banget terus gak
lama setelah kejadian itu rumahku diperbaiki lagi, udah cuma gitu aja”
jawabnya.
Sumpah Aku geli banget dengar jawabannya #;
Kali lain,
hari itu Rabu jadwal yang sangat sesak bagiku, tapi
tidak bagi temanku yang satu ini.
Eh dengan santai dia nongol ke kampung buat
ngejemputku. Tanpa kabar (yaelah gimana mau ngasih kabar sinyal aja kagak ada).
Aku sedang ngajar di kelas 3, Pak Iwan yang memberitahu kalau ada teman
yang datang. Kulihat motor yang diparkir dan sudah bisa ditebak itu pasti dia.
Masuk ruang kantor, kulihat dia sudah duduk manis dikursi dengan suguhan teh hangat
dan makanan di depannya. Aku hanya geleng-geleng kepala. Mulutnya terus
mengunyah tak henti. Sudah kenyang baru dia ingat sesuatu, dia keluar
memberitahuku kalau kunci motornya hilang.
“lah kalau kunci ilang, kok motornya bisa
dimatikan?” tanyaku sedikit panik. “Tadi
tes tes kunci motor bapak-bapak disini, terus ada yang cocok”.
“Terus sekarang
gimana mau berangkat kalau motor gak ada kunci”, tanyaku lagi.
“Ayo ikut aku”
katanya, dia bawa aku ke bengkel dekat sekolah alhasil si tukang itu ngasih
kunci lemari istrinya dan cocok pula. Aku hanya bingun dengan temanku yang satu
ini. Motor pinjaman terus kuncinya dihilangin nah pulang-pulang bawa kunci
lemari orang. terahir dia cuma bilang “doain
aku ya semoga suami teh mbai gak marah”. Lah mana pernah suami teh mbai
marah yang ada kitanya gak enakan, Kataku. Udah ntar waktu ke kota kita bikin
kunci lain yang lebih kece. Santai beutttt….
Nah ada juga tuh versi ngamuknya dia.
Kali ini ada agenda dadakan di kabupaten. Kita-kita
pada sibuk semua di kampung dan bahkan kesehatan lahir dan batin juga lagi
kurang fit. Acaranya besok namun persiapannya masih sangat minim. Ke kabupaten
pun baru nyampe sore menjelang magrib. Aku dan dia nyampe duluan kemudian
disusul oleh 1 teman cowok. Kami diskusi sambil jalan, mungkin Karena kecapean
si teman cowok kurang respon langsung aja dia ngamuk bukan kepalang. Dibantingnya
kunci motor yang ada ditangan ke lantai terus disusul dengan suara keras mereka
berdua. Aku ciut gak tahu harus ngapain. Aku diam aja. Terus dia dengan seketika
menghilang. Aku ditinggal pergi. Gak ada pilihan lain aku ajak si teman buat
nyari dia. Kami menuju ke suatu rumah. Belum shalat, ditelpon gak diangkat-angkat.
Si teman terus memuntahkan kekesalannya sambil marah-marah. Tak lama kemudian
dia muncul dan ngobol lagi kayak biasa, ngajak makan, udah kenyang eh ketawa
ketiwi lagi tu anak berdua. Aku ya nasib cuma bisa bengong liatnya.
Sebenarnya masih panjang kali lebar kali tinggi cerita
tentang dia.
Nah tiga kejadian tadi sudah cukup kusimpulkan kalau
dia sangat anggun dimataku.
Anggun sesuai dengan pembawaannya. Dia jadi panutan
bagiku.
Aku belajar
Belajar bagaimana kita fokus bersyukur atas limpahan nikmat yang kita terima dari Sang Penyayang dengan begitu
setiap kesusahan, kepedihan dan kesakitan yang ada tak berasa wujudnya.
Belajar bagaimana kita bisa berpikir jernih sesulit
apapun rintangan yang sedang kita hadapi. Harus berani bertanggung jawab dengan
segala resiko yang tlak kita pilih.
Belajar bagaimana kita bisa bangkit dari ke salahan
yang pernah diperbuat, tak perlu memperbesar dan menghakimi diri dengan
kesalahan yang lalu. Namun yang terpenting bagaimana kita bisa berubah menjadi
lebih baik dan mencari solusi untuk tantangan ke depan.
Beruntung sekali aku dipertemukan dengan sosok “dia”
Dia iya dia teman sepenempatanku saat bergabung dalam Gerakan Indonesia Mengajar
Teman jalan yang serunya pakai bangettn (2 tujuan
gagal, trip ke air terjun Pandeglang dan Baduy hiks hiks)
Teman diskusi hal remeh temeh (yang kadang pembahasannya
lari udah kemana-mana)
Teman silaturahim (yang kadang main datang aja tanpa
diundang)
Teman tilawah, shalat jamaah dimesjid (1 plan gagal,
ikut kajian ibu-ibu di komplek kosan)
Teman nyanyi sepanjang jalan Rangkas-Simpang Somang
Teman makan bubur ayam plus es campur yang nikmatnya
bukan kepalang.
Thanks untuk kebersamaan yang pernah tercipta J
Selamat hari jadi, makin shaliha ya Desi Yani Harahap.
Yuk sama-sama terus
memperbaiki diri seperti munajat yang kita lantunkan bersama. Miss you forever
kak Des